The 7 habits of Highly Effective People

Menabur Pikiran, menuai Tindakan;
Menabur tindakan, menuai Kebiasaan;
Menabur Kebiasaan, menuai Karakter;
Menabur Karakter, menuai Nasib.
– Samuel Smiles-

Dulu sewaktu mahasiswa saya pernah membaca buku karangan Stephen R Covey ini, namun terus terang susaha sekali memahaminya. Lebih mudah memahaminya setelah melihat VCD punya teman. Tapi waktu ikut trainingnya, jadi lebih paham lagi. Apalagi saat ini saya senang sekali belajar enterpreunership, managerial, dan pengembangan diri. Jadi, tentu saja mempunyai perspektif yang lebih luas jika dibandingkan dengan perspektif dulu ketika mahasiswa.

Inti dari buku ini cukup sederhana dan mudah dipahami yaitu kita akan berubah dari ketergantungan menuju Kemandirian (Kemenangan Individu dalam istilah Covey) dengan memperbaiki diri kita sebagai seorang individu, yaitu penguasaan diri dan disiplin diri. Namun, supaya menjadi individu yang kompeten (efektif) pada akhirnya kita harus bisa berkolaborasi dengan orang lain sehingga memunculkan adanya salingketergantungan dengan melakukan hubungan yang lebih mendalam dan jangka panjang, yang dalam tahap ini Covey memberikan istilah “Kemenangan Publik”. Ya, kita tidak bisa hidup di dunia ini sendiri. Kita perlu berkolaborasi dengan orang lain. Dan kebiasaan kita ditutup dengan “Asahlah Gergaji” yang intinya “Continous improvement”.

PRINSIP EFEKTIVITAS adalah hal utama yang harus dipegang dalam menjalankan The 7 Habits ini. Efektivitas adalah mendapatkan hasil yang baik hari ini (produksi) dengan cara yang memungkinkan kita untuk mendapatkan hasil yang terus-menerus (berkesinambungan). Nantinya, dalam menentukan apakah suatu tindakan/sikap akan efektif atau tidak akan didasarkan pada prinsip ini.

1. Menjadi Proaktif
Kebiasaan yang pertama diawali dari mindset atau pola pikir kita. Kita harus sadar sepenuhnya bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Orang yang efektif berprinsip bahwa hidup adalah pilihan, sehingga sadar bahwa keadaan saat ini adalah hasil dari pilihan-pilihan sendiri di masa lalu. Orang yang proaktif bersikap didasari pada prinsipnya (yaitu bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil), sedang orang yang reaktif berbuat sebagai hasil dari reaksi apa yang terjadi di luar dirinya.

Orang proaktif sadar bahwa dirinya adalah programmer untuk dirinya. Dia sendiri yang mengatur dirinya, bukan situasi diluar yang mengatur tindakannya.

Ada perbedaan yang mendasar antara orang proaktif dan reaktif (walaupun dua-duanya sama-sama aktif), yaitu bahwa setelah terjadi stimulus, orang reaktif akan berhenti sejenak untuk berfikir sebelum melakukan respon yang layak. Sedangkan orang yang reaktif akan langsung memberikan respon seketika setelah ada stimulus, tanpa adanya jeda untuk memilih atau berfikir.

Di saat jeda memilih tersebut, orang Proaktif akan melakukan STEP: Stop – Think – Evaluate – Proceed. Dan sah-sah saja jika Anda memiliki metoda lain dalam berfikir, misalnya BRAIN: Benefit-Risk-Altenative-Instinc-No respone.
Di dalam melihat suatu hal, orang yang proaktif akan mengajukan pertanyaan: HOW dan WHAT yaitu berusaha mencari solusi, sedangkan orang yang reaktif akan mengajukan pertanyaan WHY, WHEN, dan WHO.

2. Mulai dengan Tujuan Akhir

“Tolong beritahu saya, jalan mana yang harus saya ambil?” Kata Alice”

Hal itu tergantung kemana kamu kan pergi” Kata Kucing”

Saya tidak peduli akan ke mana saya….”. Kata Alice”

Kalau begitu, tidak ada bedanya jalan manapun yang kamu ambil” kata Kucing

dari Petualangan Alice di Negeri Ajaib

Tujuan akhir, VISI, adalah sesuatu yang mendorong seseorang berbuat. Jika seseorang mempunyai cita-cita yang tinggi tentunya ia akan bekerja lebih keras dan tekun daripada orang yang mempunyai cita2 yang lebih rendah.

Orang yang efektif akan mempunyai cita-cita yang tinggi, dan cita-cita tersebut dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan dan menjalani hidupnya. Orang yang tidak efektif akan menjalani hidup tanpa tujuan, menjalani hidup apa adanya, mengikuti kemana arus akan membawanya.

Sebagai seorang insan, kita hidup dengan banyak peran. Sebagai individu yang bertanggung jawab kepada dairi sendiri, sebagai Ayah/Ibu, kepala keluarga, professional, atau pengusaha. Masing-masing peran tersebut menuntut kompetensi yang berbeda-beda, tentu saja akan mempunyai tujuan yang berbeda pula. Lalu, apa tujuan/keinginan kita untuk masing-masing peran tersebut? Apa yang ingin anak Anda katakan kepada Anda sebagai orang tua saat ulang tahun Anda yang terakhir? Anda yang tahu jawabannya.

3. Dahulukan yang Utama
First think First. Ya, jika kita tidak mempunyai prioritas, maka kita akan menjadi terlihat sibuk namun tidak menghasilkan apa-apa, karena semuanya dikerjakan. Orang yang efektif akan mendahulukan hal-hal yang penting, sedangkan orang yang tidak efektif akan mendahulukan hal-hal yang mendesak, sehingga akan senantiasa merasa dikejar2 waktu. Tentu saja ini akan menjadi beban mental (stress) jika terjadi berkepanjangan.
Selayaknya apa yang kita kerjakan didasarkan pada skala prioritas. Mana yang paling efektif dikerjakan dulu, baru berfikir efisiensi. Sudah tentu, pedoman untuk bisa memilih mana yang harus didahulukan adalah kita harus mempunyai tujuan akhir dahulu.

Orang yang efektif akan berusaha mengurangi pekerjaan yang urgent (penting & mendesak) dengan mengerjakan hal-hal yang penting namun tidak mendesak. Jadi, silahkan buat rencana mingguan Anda.

Jika kita mengerjakan tiga sikap ini secara konsisten, kita akan menjadi pribadi yang mandiri, efektif secara individu. Dengan menjadi pribadi yang mandiri, maka kita layak menjadi seorang individu yang layak dipercaya karena komitmen kita, atau dalam istilah Covey adalah mendapat Kemenangan Pribadi

Sikap berikutnya adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang efektif dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain:

4. Berfikir Menang-menang
Kebiasaan ini membawa kita kembali untuk melihat mindset kita. Bagaimana kita bisa senantiasa berfikir menang-menang dalam berhubungan dengan orang lain. Untuk bisa berhubungan menang menang, inisiatif bisa datang dari salah satu atau kedua orang yang berhubungan. Untuk bisa melakukan tindakan ini, kita tidak hanya membutuhkan tenggang rasa yang tinggi, tapi juga keberanian yang tinggi dari diri kita.
Untuk bisa melakukan sikap ini, kita harus sadar bahwa apa yang ada di dunia ini melimpah bagi setiap orang dan berlimpah untuk dibagi. Jadi, selama kita merasa bahwa sesuatu jumlahnya terbatas, maka kita akan sulit berinisiatif melakukan kebiasaan menang-menang.
Sebagai prinsip dari sikap ini adalah bahwa hubungan jangka panjang yang efektif membutuhkan saling menghargai dan manfaat bersama.

5. Berusaha Memahami Dulu Baru Minta Dipahami
Dalam berhubungan dengan orang lain, pasti kita berkomunikasi dengannya. Nah, supaya komunikasi kita menjadi lebih efektif biasakanlah berkomunikasi dengan empati, kelihatannya akan memakan waktu yang lama, namun sebetulnya akan lebih efektif daripada kita berkomunikasi dengan cara lain, adu argumen misalnya.

Paradigma orang yang efektif adalah bahwa ia mendengarkan untuk memahami, sedangkan orang yang tidak efektif mendengarkan untuk menjawab.

6. Sinergi
Akhirnya setelah kita bisa menjadi seorang individu yang mandiri (karena efektif secara individu), dan kita bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain dengan baik dengan berfikir menang-menang dan berkomunikasi dengan empati, kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan kita dan orang lain.
Orang yang efektif berfikir bahwa dengan bersama-sama akan mencapai tujuan yang lebih baik, sedangkan orang yang tidak efektif akan memaksa orang lain untuk mengikuti caranya, atau dengan kompromi. Akhirnya, dengan tambahan tiga sikap ini (sikap 4-5-6), kita akan menjadi seorang individu yang dipercaya oleh orang lain karena kita bisa mengambil hati orang lain.
Dan agar kita menjadi individu yang efektif, ditutup denga kebiasaan terakhir:

7. Asahlah Gergaji
Inti dari kebiasaan yang terakhir adalah kita senantiasa mengembangkan kemampuan kita dari segi Fisik, Mental/Pikiran, Sosial/Emosional, dan Spiritual.
  • Fisik: Olahraga, makan, dan istirahat seimbang dan manajemen stress yang baik.
  • Mental: Membaca, menulis, belajar, dan meneliti.
  • Sosial/Emosional: Membangun hubungan yang baik dengan orang lain, menjaga EQ kita.
  • Spiritual: melayani,meditasi, berdoa, ibadah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

–  Diambil dari blog Mas Eko Rakhmat

1 Comment »

  1. 1
    Kris Says:

    wah dalem banget
    jd tmbh pusing …?????
    tak baca dulu sampe ngerti dech


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: